Kataku tentang Alexandria
Dua belas hari singgah disuatu tempat memang terkesan cepat, namun bagi yang merasakannya ini bukan waktu singkat, ini waktu panjang yang harus benar benar kau manfaatkan. Alexandria, sebagai kota yang katanya dinisbatkan sebagai saksi datangnya peradaban romawi, kota penuh dengan sejarah, peristiwa dan bejuta kenangan
. Kota yang terkenal akan lautnya yang indah. Kota kedua terbesar dimesir yang berhasdapan langsung dengan indahnya biru laut mediterania. Ramai akan pengunjung yang setia merasakan dinginnya pesisir pantai baik siang ataupun malam demi menikmati indahnya alam.
Selain dikenal akan indah lautnya, ia memiliki sejarah tersendiri akan hadirnya perdaban islam. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Al - Abbas Al - Mursi yang dibangun oleh Syeikh Abu Abbas Al - Mursi sebagai ulama Andalusia yang makamnya terdapat dimasjid ini, ia adalah masjid paling indah dan bersejarah di iskandariyah. Malam hari kali pertama aku mengunjungi, tidak ada kesan apapun, kali kedua aku mengunjungi, tiada yang lebih indah mata ini untuk selalu memandang bentuk bangunannya pada saat itu.
Iskandariyah, begitulah penduduknya akrab mengenal mendengar dan menyebutnya. Aku tidak bisa berkata - kata tentang nama itu, karena apa yang kurasa saat itu seperti tidak mungkin, seperti mimpi, seperti hidup tanpa menapak. Aneh tapi nyata. Dahulu, namanya hanya tersebut terdengar lalu hilang disapu angan. Tapi kali ini bukan angan yang hanya yang ingin ku ceritakan, tapi ini sebuah realita dalam kehidupan yang patut ku syukuri, perlu kupahami karena tak semua bisa menginjakan kaki dibumi ini.
Sungguh aku benar benar melihat indahnya bibir laut yang indahnya bisa dibilang sempurna. Bukan hanya gambar yang bisa kulihat dari internet, tapi ini asli aku melihat merasakan dinginnya angin dari pagi hingga malam menjelang. Aku bisa mendengar ramainya kendaraan yang sibuk berjalan melewati sepanjang pesisir pantai.
Saat itu aku berkata aku seperti diluar negri, seperti tidak sadar bahwa selama dua bulan ini aku tidak lagi hidup ditanah air. Mengapa begitu?Karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya jadi minoritas dalam suatu tempat, dan berbanding jauh dengan keadaan kairo yang setiap sudut kutemukan orang orang berwajah asia.
Alenxandria kota yang digambarkan sebagai kekasih sempurna karena lautnya. Tak jarang kau berjalan, banyak orang terlihat aneh ketika memandangmu, bahkan merasa asing ketika berhadapan denganmu. Cukup jarang dan sedikit jumlah masisir dikota ini, bahkan bisa terhitung jumlahnya.
Aku bahagia bukan main. Mobil tremco yang cukup sederhana yang membawa mengantarku sampai kota itu walau tidak senyaman yang dibayangkan. Perjalan yang memakan waktu, istirahat didalamnya entah bagaimana bentuk dan posisinya. Pegal sakit tak tahu rasanya. Begitulah, namun semua tak mengurangi rasa syukur yang terus terngiang dalam otak ku.
Siapa yang tidak tahu wisata banteng quitbay, ketika telah berdiri di tanah iskandariyah ini. Banteng yang melahirkan bejuta sejarah dan juga ceritanya sendiri. Banteng yang dibangun oleh Sultan Al Ashraf An Nashr Syaifudin Qaitbay 1423 M. Banteng yang berhasil mencegah dan menahan musuh yang hendak merebut indahnya kota inkandariyah. Banteng yang memiliki keindahan yang luar biasa ketika digambar melalui tulisan. Laut nya yang berwarna hijau tosca, ombak halus yang berjalan menerjang karang. Sungguh ini keajaiban yang kasat mata.
Begitulah sekilas awal kali aku datang menginjakan kaki di tanah iskandariyah. Ini bukan sekedar perjalanan, buka hanya senang - senang tapi ini juga perjuangan. Singgah dalam waktu yang tak sebentar, Alexandria juga mengajarkan-ku arti berjuang, bersabar dan mengerti setiap keadaan. Walau terkadang rasa tak sabar muncul karena sulit dipungkiri, tapi aku yakin ini awal dari pembelajaran dan proses menuju kesuksesan.
Mungkin sebagian mengira, aku bersenang - senang menikmati dan menghabiskan waktu liburan. Ya..ini memang libur, liburan yang menjarkan aku bahwa setiap hari adalah pembelajaran, bahkan tidak ada kata libur untuk pendidikan. Semua berjalan mengikuti waktunya, karena yang akan dihasilkan adalah sebuah perubahan dari hari ke hari berikutnya. Alexandria juga mengantarku ke jalan untuk selalu dekat dengan-nya, hingga aku mengenal dan lebih mencintai kekasih-nya.
Dia juga menumbuhkan sejarah yang mungkin hanya aku yang merasakan-nya. Membuat hariku tersenyum bahagia hingga perpisahan indah yang tak diharapkan itu datang.
Iskandariyah aku jatuh cinta.











Komentar
Posting Komentar