Ikhlas dan mengerti
Jadi seperti ini ceritanya, sudah beberpa hari sebelum memutuskan untuk pergi ke Matruh, gue sempat merasakan sedih luar biasa dan harapan untuk berangkat hampir tidak ada.
Berhubung keadaan yang sangat tidak memungkinkan dan berpengaruh dalam perekonomian gue sempet pasrah dan gamau memaksakan keadaan.
Beberapa bulan pertama kedatangan gue di Mesir, Alhamdulillah semua kebutuhan tercukupi dan terasa rezeki orang tua selalu mengalir dan perasaan sedih karena gue ini sulit mengatur keuangan alias boros itu hadir hingga gue keluhkan dan meminta maaf dengan orang tua. Mamah selalu bilang "Gapapa kak, belajar pelan - pelan, makanya gunakan uang teratur sesuai jadwal mamah kirim, insya allah awal bulan selalu mamah kirim selambat - lambatnya pun sekitar tanggal 5", dan itu kata - kata beliau yang gue selalu inget dan buat gue semangat untuk berjuang mengatur keuangan agar tidak keluar dengan sia - sia.
Hidup di negri orang dan jauhnya jarak dengan orang tersayang bahkan mengemban amanah yang harus terus dijaga adalah sebuah tantangan bagi siapa saja yang ingin merantau demi masa depan.
Sebisa mungkin gue harus bersikap dewasa tidak mengeluh dan memberitahu kabar bahwa semua baik baik - baik saja.
Bahkan untuk menuntut meminta untuk menutupi gaya hidup harus dihilangkan secara perlahan, berusaha membuat orang tua yakin bahwa kita bisa dan baik - baik saja dan tetap hidup sederhana.
Dari jauh hari gua hanya bertanya bukan meminta, apa gue boleh ikut ke Matruh? Mereka bilang "nanti dibicarakan dulu kak".
Awal bulan tiba, rasa untuk meminta itu hilang terganti rasa tidak enakan walau sebenar-nya saat itu gue sedang dalam kekurangan.
Biasanya sebelumnya ayah bilang kalau uang sudah dikirim pasti beliau selalu menghubungiku, tapi kali ini beda bahkan nominal yang beliau kirim itu berkurang dari jumlah biasanya. Ayah hanya mengirim bukti kiriman saja setalah itu hanya membaca balasan whatsup yang gue jawab.
Jujur cukup sedih bingung bahkan ini membuat kesedihan hingga tangis itu menjadi - jadi. Bukan karena jumlah uang yang dikirim, tapi bagaimana keadaan dirumah saat itu yang gue fikirkan.
Pertama, gue punya 3 adik yang masih membutuhkan biaya yang cukup besar. Posisi bahkan keadaan saat itu yang menguatkan gue untuk selalu bersyukur dan bisa sadar bahwa tidak semua apa yang kita inginkan bisa terwujud dalam satu waktu. Masih ada saudara gue yang memerlukan, gua disini belajar dan bukan untuk senang - senang. Keadaan seperti ini yang semakin meyakinkan bahwa gue ga mungkin berangkat ke Matruh.
Dari sini gue belajar ikhlas, belajar untuk memahami keadaan orang tua walau banyak yang mereka tutupi dibalik semuanya.
Suatu hari gua berusaha bertanya kembali sama mamah, "Mah ita boleh ikut ke Matruh?" ,beliau balik bertanya
"semuanya ikut kak?" ,
"ya sebagian teman ita ada yang ikut mah tapi ita bingung mau ikut atau engga"
"kok kamu jadi galau kak?"
"Gapapa mah, kalau memang lagi engga ada gapapa kok"
"Udah ikut aja, itung - itung refresing"
"Tapi kalau ita ikut sedangkan dirumah lagi butuh uang berarti ita dzolim mah, masa senang - senang diatas penderitaan orang"
"Kak ga usah mikirin uang, berdoa aja supaya dikasih rezeki terus ya"
Awalnya gua sudah mengikhlaskan kalau memang tidak berangkat ya sudah tidak masalah, tapi Allah berkata lain, semua yang gue relakan dikasih dan gue diberi kesempatan itu.
Walhasil tepat tanggal 17 September 2020 pukul sebelas malam lewat gue berangkat dalam perjalanan menuju Matruh.
Komentar
Posting Komentar