INSECURE ?!
Kedengaran sudah tidak asing pada zaman sekarang ini, kata yang sering disebut - sebut bagi orang yang merasa kurang karena melihat kelebihan orang - orang sekitar. Mereka yang merasa gelisah tidak tenang memikirkan nasib dan keadaan yang selalu dibandingkan dengan kemampuan orang. Di era yang begitu canggih ini, sosial media yang semakin memberi akses paling cepat yang memudahkan kita semua hingga bisa mengatahui keadaan sanak saudara yang jauh dimata tanpa harus bertatap muka.
Zaman sekarang kita hidup bersaing dalam bentuk digital, lamanya covid - 19 yang banyak memberi dampak positif juga negatif serta beribu hikmah didalamnya. Kini manusia tidak lagi merasa sungkan untuk menunjukan kemampuan dalam segala bentuk hal di dunia maya yang kini menjadi sorotan utama masyarakat untuk mencari informasi terkini. Namun akibatnya banyak dari masyarakat Indonesia yang kesulitan dalam keuangan bahkan kehilangan pekerjaan. Tapi saat itu lah manusia diuji dengan berbagai permasalahan, diberi tantangan agar mental kuat dan betahan dalam segala keadaan, memang berat sekali namun disitulah kita bisa mengatahui hikmah dibalik setiap musibah.
Omong - omong tentang insecure yang gua alami jauh sudah gue rasakan pada zaman sekolah menengah pertama, yang mana anak muda sedang memulai pasa pubertas yang luar biasa. Kalau kita throwback pada zaman sekolah dasar, dulu gue merasa tidak pede ketika menunjukan nama lengkap. Aneh tapi nyata hahaha. Seorang Sagita yang malu ketika menyebutkan atau mendengar sebutan "Nur Bachri" merasa seperti paling jelek dan merana hahaha. Yess of course, dulu gue masih kelas 1 SD, entah apa yang ada dipikiran gue saat itu hanya malu saja. Tapi seiring usia bertambah gue bangga dengan nama yang memiliki arti istimewa, nama pemberian dari orang tua yang begitu ikhlas dan selalu ada untuk anaknya.
Nah berbicara masa SMP wkwkwk. Gue ga tinggi dari dulu selalu pendek. Entah mengapa selalu malu kalau kelihatan cowo dan tau gue pendek. Dulu pikiran gue, "kayanya ga ada yang mau sama cewe pendek" makanya gue selalu pake sandal tinggi biar good looking in body hahaha. Padahal mah cinta monyet ga gitu, mereka selalu memberi kebahagian dan dunia terasa milik berdua tanpa fisik yang menjadi pegangan. Asekkk.
Nah berlanjut cerita gue yang merasa pede ketika udah bertambah tinggi diusia 3 smp, wah suatu apresiasi atas usaha loncat - loncat. Nah masa SMA, disini gue mulai menyadari bahwa semua ga bisa ditolak ukur dari fisik aja tapi sikap, ahklaq, kemampuan dan kinerja seseorang lebih diutamakan sedang fisik adalah nomor kesekian.
Manusiawi sekali ketika kita punya rasa gelisah ketika melihat orang dalam segala kelebihannya yang tidak kita miliki, tapi percayalah bahwa setiap manusia tidak selalu lebih dan pasti memiliki kekurangan. Tapi rasa itu bisa kita olah dengan selalu mengingat kata syukur akan segala kelebihan yang tuhan beri, bukan hanya kelebihan tapi segala nikmatnya.
Dan seiring berjalan waktu, kalau kita berbicara tentang kemampuan semua akan terjawab di waktu yang tepat, akan tumbuh bunga yang bermekaran indah dari hasil biji yang kita tanam di masa susah.
Bukan dendam atau dengki yang dipelihara tapi dengan meningkatkan kualitas diri dengan menunjukan kemampuan agar lebih terarah dan terasah, juga mengolah hati untuk selalu berpikir positif agar tidak tumbuh iri ataupun kesomobongan diri.
"Tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau berusaha dan terus berdo'a"
SEMANGAT BERPROSES 😍

Komentar
Posting Komentar