Tetap tumbuh, walau rapuh

 


Cerita tanggal 21 Desember 2021

Bulan di penghujung tahun, angka usia semakin bertambah, jatah usia hidup pun berkurang.


Namun mengapa yang diharapkan tak kunjung datang?

Yang dicari malah pergi?


Dua puluh empat Januari.

Beberapa hari menuju hari jadiku di dunia ini.


Anak pertama itulah aku, anak perempuan yang diharapkan kelahirannya. Semoga saja.


Halo mah yah, 

Aku lahir loh, aku bahagia melihat dunia :) 

Semakin hari aku semakin tumbuh, menjadi anak cengeng yang manja dan suka merengek dengan ayahnya.

Aku semakin bawel karena ternyata aku suka berbicara dan membuat kelakuan konyol dikeluarga.

Anak kecil cerewet yang sangat baperan ketika diledek pamannya, dan selalu mengadu meminta tolong dengan nenek kesayanganya.


Lama - lama aku tumbuh, menjadi anak remaja.

Adaptasi yang luar biasa, tapi sungguh aku bahagia.

Duduk di kelas menengah pertama, oh begini rasanya.

Asik tapi mengapa banyak yang tertahan, 

Entahlah memang pikiranku sepertinya belum matang.


Beberapa peran kudapatkan, yaa inilah aku..

Mencari jati diri di masa SMA.

Sulit yahh ternyata, masalah cinta, teman dan asrama.

Kini semuanya menjadi bahan senyum" sendiri,

Tapi aku bahagia. 

Segala luka saat itu, nampaknya aku sudah lupa.


Berat sekali yaa menjadi dewasa.

Dulu rasanya ingin cepat - cepat besar agar bisa mendapat banyak kesempatan, 

Tapi sekarang aku ingin menjadi gita kecil yang polos tanpa memikirkan banyak hal.


20 tahunku sudah lewat,

Ku kira ujian hidup selesai sampai situ, ternyata tidak.


Kukira aku sudah dewasa, ternyata tidak.

Kukira aku sekuat baja, ternyata lagi di tempa.


Tonjok lagi memar lagi bengkak sampai berdarah pun, kemudian sembuh lagi, lalu terulang lagi.

Sampai kapan ini berakhir?


Ternyta satu tahun menjadi 20 tahun belum cukup untuk menjadi manusia baja yah :(


Penghujung tahun 2021 menuju 2022, ada hari dimana aku merasa di titik paling rendah dan tak bisa meminta tolong dengan siapapun kecuali diriku sendiri.

Dimana aku ingin marah pada diri sendiri, ingin teriak namun tak kuasa, ingin bercerita namun semua pergi.

Yasudahlah..


Ikuti perjalanku yukk..


Pagi itu aku harus melaksanakan ujian kenaikan tingkat  kelompok bahasa, 

Pagi yang tak nyaman seperti biasanya, seperti tidak punya teman dan nampak sendirian.

Pikiran pecah anatara masalah dan keinginan.

Ingin berteriak ingin marah tapi semua tertahan oleh sisi diri yang harus mengalah.

Dan aku berhasil meredam anak kecil didalam diri ini.


Diperjalanan tangisku menjadi-jadi, egoku semakin kuat didalam diri, langkahku semakin mantap untuk meninggalkan kewajiban.


Ingat perkataan ayah "Bagaimanapun kamu ga boleh kalah sama keadaan ya kak"

Ingat juga perkataan kaka kelasku si GemaIntan "Ketika masalah datang, cobalah untuk tenang dan hadapi dulu sendirian"


kolaborasi kata demi kata, yang kemudian ku aduk sampai rata dalam waktu singkat, namun air mata terus menembus dinding, lalu semakin kuat tenagaku mengaduk olahan kata itu menjadi sebuah pondasi diri yang kemudian ku tempelkan ke hati.


Akhirnyaa.. 

air mataku berhenti,

Langkahku melaju untuk pergi,

Tidak ada yang bisa menahan untuk melawan ego diri.


RAPUH SEKALI

Tapi asupan nasehat yang mengingatkan, menjadi penguat kerapuhan.


Hai lihatlah.. 

Anak kecil yang kau bawa dari dulu kini mulai jinak denganmu.

Anak kecil itu bisa kau bawa untuk menatap dunia yang begitu luas.

Jagalah dia disetiap keadaanmu, 

Jangan sampai ia kembali menuntunmu ke masanya dan berbalik arah.


Percayalah,

Perubahan itu ada dan nyata.

Jangan takut untuk mengambil langkah.

Karena hakikatnya,

Bukan tujuan yang dicari, tapi bagaimana proses menemani agar lebih baik lagi.


Dan ingat ini bukan akhir cerita,

Hanya sebuah proses menjadi manusia.

Tetaplah rendah hati dan lebih sabar lagi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The began of struggle

BURNOUT