Ujung cinta
"Entah apa yang salah dari semuanya?"
Berkali-kali aku bertanya siapa yang salah, hingga akhirnya aku sadar bahwa kesalahan pertama adalah diriku yang memberanikan diri untuk menciptakan hubungan ini. Aku yang selalu merasa bahwa tidak ada lelaki yang mau menerimaku diluaran sana, yang kufikirkan haruskah aku memperkenalkan aku seorang diri dengan segala kekurangan juga kelebihanku.
Berawal dari hari-hari yang membuatku gundah dengan cinta yang tak pasti, sedikit demi sedikit teka-teki terpecahkan untukku bisa mendapatkannya. Hal terindah saat aku berkesempatam untuk berbicara empat mata dengan dia, lelaki yang selama ini sudah lama aku kagumi. Hingga pada akhirnya keadaan memaksa untuk kudesak perasaanya, dan bertanya bagaimana kelanjutanya. Naif sekali diriku seperti perempuan tak ada harganya.
Waktu terus berlalu tak terasa sudah hampir 2 tahun lamanya kupelihara hubungan yang penuh dengan berbagai pertanyaan juga permasalahan yang sulit dipecahkan. Hingga badai datang karena diriku yang mengundang hingga akhirnya kita berpisah untuk sementara sampai pada akhirnya semesta menyatukan kami bersama lagi, entah takdir atau hanya ujian saja. Tapi selanjutnya kami melanjutkan hubungan kami yang masih merasa kurang satu lain, saling merasa paling banyak berjuang dan masih banyak saling yang kami tidak harapkan.
Begitu banyak permasalahan datang mulai dari yang kecil hingga yang besar, datang lalu pergi kemudian datang kembali. Kesekian kalinya aku bertanya apa yang salah dari kita? apakah semesta sejujurnya tidak merestui kita? atau kita hanya terjebak oleh lamanya hubungan, bertahan karena usia bukan karena cinta. Mengapa begitu banyak pikiran yang menggoda untuk berpisah tapi hati kecilku berkata bahwa kamulah masa depanku. Dan kuingatkan lagi diri ini bahwa sabar adalah solusi terbaik untuk setiap permasalahan, maka cobalah untuk saling mengerti keadaan.
Aku perempuan yang terlalu egois yang selalu ingin dimengerti dalam setiap keadaan dan segala permasalahan, mungkin terlalu banyak diriku menuntut kesempurnaan yang pada akhirnya hanya ekspetasi semata yang sangat menyakitkan. Terlalu banyak angan-angan untuk hidup senang layaknya cerita film di layar lebar atau memang hanya aku seorang yang gila akan khayalan tentang cinta.
Entah apa yang mengikat hati ini hingga aku begitu mencintainya tanpa ingin melepaskannya, padahal yang kita suka belum tentu semesta mendukung apa mau kita. Tapi katanya cinta butuh usaha, dan aku selalu berupaya untuk mengolah rasa cinta agar tetap bertahan hanya dengannya. Dan aku tak tahu bagaimana akhirnya suatu hari nanti, semoga takdir baik jatuh pada kami yang saling mencintai.
Komentar
Posting Komentar